Link Banner

Rabu, 26 Oktober 2016

Makna dan Manfaat Agni Hotra dalam Hindu

Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu Agni dan Hotra. Agni adalah api dan Hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.

Makna dan Manfaat Agni Hotra dalam Hindu

Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda.

Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ketempat lain.

Agnihotra adalah pemujaan atau persembahan kepada Hyang Agni yang dalam Agnihotra atau "Agni Hotra" dalam acara agama sebagaimana disebutkan Agastya Parwa yaitu persembahan berupa minyak dari biji-bijian (kranatila), madu kayu cendana (sri wrksa) mentega, empehan susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I.24-27


Jadi  pada prinsipnya semula pengertian yajna berupa pemujaan pada Hyang Agni dengan minyak dan susu sehingga dengan yajna itu dipercaya menimbulkan hujan, dari hujan timbul makanan, dari makanan lahir mahkluk hidup. 



Atharvaveda XXVIII.6
Yatrà suhàrdàý sukåtam –
agnihotrahutaý yatrà lokaá,
taý lokaý yamniyabhisambhuva
sà no ma hiýsit puruûàn paúuýúca
.
 

Terjemahan:
(Di mana mereka yang hatinya mulia bertempat tinggal,
orang yang pikirannya damai dan mereka yang
mempersembahkan Agnihotra, di sanalah majelis
(pimpinan masyarakat) bekerja dengan baik,
memelihara masyarakat, tidak menyakiti mereka
dan binatang ternaknya) 


Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III.14), yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan.

Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain.


Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur.


Diantara berbagai Weda, Rig Weda secara menyeluruh memuja-muji para dewata. Namun dari permulaan (Upakarma) sampai ke akhir (Upasamhara) karya ini berbicara tentang Hyang Agni, jadi banyak pemuja kemudian menghubungkannya hal tersebut sebagai pemujaan api kepada Hyang Agni (Agni-Hotra).

Padahal yang dimaksud sebenarnya adalah cahaya Bhagavatam (Jyotir,Tat Savitur) yang hadir di dalam kesadaran seorang manusia (Atma Chaitanyam).


Sukta terakhir Rig Weda ke Agni bersifat amat universal : “Semoga setiap insan berfikir dan bersatu dalam suatu pemikiran. Semoga semua hati bersatu dalam bentuk cinta kasih. Semoga tujuan semua manusia selaras hendaknya. Semoga semua makhluk berbahagia dalam suatu kesatuan itikad.

Sejarah pelaksanaan upacara agnihotra ini dalam Spiritual-AgamaHindu, khususnya pada sarana dan prosesi Agni Hotra I disebutkan bahwa berdasarkan beberapa temuan peninggalan purbakala (arkeologi) dan tradisi yang hidup dalam masyarakat Bali, yang mana beberapa peninggalan purbakala disebutkan sebagai berikut:



  • Berupa lobang api (Yajñaśala atau Vedi) tempat dilaksanakan-nya ūpacāra Agnihotra. Tempat atau lobang api ini dapat pula kita saksikan di salah satu Gua Pura Gunung Kawi yang diyakini oleh penduduk sebagai Geria Brahmana terdapat sebuah lobang dalam sebuah altar di tengah-tengah gua, yang rupanya dikelilingi duduk oleh pelaksana ūpacāra Agnihotra.
Peninggalan berupa lobang tempat api unggun itu adalah Yajñakunda (Yajñaśala) dikuatkan pula dengan adanya lobang api di bagian atap  sebagai ventilasi keluarnya asap dari tempat dilangsungkannya ūpacāra Agnihotra.
  • Nama-nama seperti Keren, Kehen, Hyang Api Hyang Agni (Hyang geni) dan Śala menunjukkan tempat yang berkaitan dengan dilangsungkannya ūpacāra Agnihotra.
  • Upacāra Agnihotra terakhir terjadi pada masa kerajaan Klungkung di bawah raja Dalem Waturenggong di Istana raja Gelgel dengan purohita Mpu Astapaka bersama Danghyang Dwijendra.
    • Saat itu, ketika pelaksanaan ūpacāra Agnihotra berlangsung, kobaran api menjadi begitu besar dan meninggi hingga melalap atap panggung tempat ūpacāra sehingga mengakibatkan kebakaran. 
    • Maka sejak itu raja memerintahkan untuk melaksanakan ūpacāra Agnihotra yang kecil dan sederhana saja yang kemudian terus mengerdil menjadi dengan menggunakan pasepan (padupan) saja. 
    • Sehingga lama kelamaan, tradisi melaksanakan ūpacāra Agnihotra itupun hanya dikenal oleh para pandita saja, bahkan sesudahnya karena proses waktu, banyak dari pemangku yang bahkan tidak mengetahui asal mula dari penggunaan pasepan itu sehingga nyaris bahwa ritual agni hotra atau pemujaan kepada dewa agni ini semakin memudar dan tak dikenal di Bali.  
    • Sedangkan daksina juga diperlukan dalam prosesi persembahan Agni Hotra yang dipimpin oleh sang dwijati, pemangku dll.

Posted by Sobat Hindu
Sobat Hindu Updated at: 23.23

0 komentar:

Posting Komentar

 
Link Banner